468x60 Ads


Selasa, 03 Desember 2013

MERANJAT


“SANG RIMAU MERANJAT”

Ada pade sebuah cerite Buyut Ni ingsal nyawa , yang berasal dari dusun Lintang Empat Lawang karena malu dengan kakaknya yang tua sibuku nyawa, maka dia dan kakaknya yang menegah bernama ‘ Si Terang Nyawa merantau.
Si Terang Nyawa kesebelah barat sedangkan Ni Ingsal Nyawa ketimur.
Setelah berbulan-bulan Ni Ingsal Nyawa sampai di perantauan dan berdiam didusun Meranjat .


Sudah beberapa tahun dia tinggal disini karena tingkah lakunya baik dan pemberani dan oleh kepala dusun bernama Rio Siropati yang berasal dari Banten. Ni Ingsal Nyawa ditunjuk sebagai kepala keamanan daerahnya. (Meranjat)
Walaupun Perawakan Ni Ingsal Nyawa tidak kekar, malahan agak kerempeng , tetapi gerakannya sangat gesit. Matanya memancarkan sinar Hipnotis yang mempesona. Orangnya agak pendiam, tetapi kata-katanya bernas , dia disegani oleh kawan maupun lawan . ditelapak kakinya terdapat penyakit bubul dan sangat mengganggu gerakannya, jalannya kadang terlihat agak terseok.
Ada yang mengatakan bahwa gerakannya itu hanya dibuat-buat untuk mengelabui musuh bahwa dia adalah orang yang lemah dan mudah ditundukkan.
Siropati kepala dusun Meranjat , gemar memelihara kerbau , diantara sekian banyak kerbaunya ada seekor kerbau jantan yang perkasa , setiap diadakan aduan kerbau , kepunyaaan Siropati selalu menang , dan pada akhirnya keganasan kerbau ini sampai ditelinga Sunan Palembang. Yang gemar dan sering mengadakan bermacam-macam aduan ,
Sunan Palembang mempunyai seekor harimau besar dan ganas yang baru ditangkap, dia ingin sekali memngadu harimau itu.
Siropati Kepala dusun diperintah oleh sunan agar membawa kerbaunya yang terkenal melawan itu ke Palembang, untuk diadu dengan harimau yang baru tertangkap itu , Siropati memenuhi perintah itu tanpa membantah. Dan Ni Ingsal Nyawa ditunjuk sebagai kepala Rombongan.
Pada hari aduan yang sudah ditetapkan, manusia datang berjejal-jejal ingin menyaksikan pertunjukan yang mengerikan itu, menuju arena yang sudah dibangun sedemikian rupa.
Setelah segala sesuatu telah siap maka dalam keheningan yang mencekam , kerbau siropati dimasukkan ketengah gelanggang . dan suasana lebih mencekam lagi ketika Harimau yang ganas itu dikeluarkan dari kurungan nya, semua penonton menarik nafas panjang , merasa takut dan ngeri , harimau itu berjalan lambat-lambat tapi pasti menuju dimana kerbau berada.
Sementara Kerbau Perkasa itu, mengais-ngai tanah dan mendengus keras-keras membuat debu berterbangan keudara.
Kini kerbau dan harimau itu sudah berhadap-hadapan , harimau mengeram-geram sambil mengambil ancang-ancang dan meliukkkan badannya bersiap untuk menerkam kerbau sedangkan kerbau menatap lekat sambil mendengus –dengus keras, menundukkan kepala siap menyambut terkaman harimau itu dengan tanduknya yang runcing.
Sementara itu terdengar suara penonton mulai menghasut binatang yang sedang menyabung nyawa itu. .
Sejurus kemudian pergulatan seru terjadi. Dengan kuku yang panjang dan runcing – runcing sang harimau langsung menrkam si kerbau, dan setiap serangan yang datang kerbau berkelit sambil memutar tubuhnya dan mengandalkan tanduknya yang runcing.
Pergulatan cukup lama darah mulai keluar dari tubuh kerbau, begitu juga dari tubuh harimau, semakin banyak darah yang keluar dari binatang ini semakin menggema membelah langit suara penonton.
Suatu ketika, harimau melancarkan serangan yang sangat berbahaya yang mengarah pada bagian-bagian tubuh kerbau yang lemah.
Serangan itu rupanya menentukan nasib kerbau yang perkasa itu. Dia menggoyang-goyangkan kepalanya dengan keras untuk melepaskan kuku dan taring harimau yang menancap di lehernya , tapi tak berhasil. Setelah berputar-putar sebentar tubuhnya yang besar dan gagah itu roboh jatuh kebumi buuummm. !
Sorak dan pekik penonton seperti gila, tapi ada juga yang diam terpana. Kengerian yang mengesankan .
Sementara itu disisi lain Sunan Nampak senang tertawa,- tawa sambil menunjukan jempolnya pada harimaunya yang keluar sebagai pemenang.
Dalam suasana yang gegap gempita itu, tiba-tiba Ni Ingsal Nyawa melesat dengan cepat ketengah gelanggang , terus menuju kehadapan sunan yang berada di Panggung kehormatan . Orang yang menyaksikan menjadi terkejut dan heran , dan ada yang berteriak teriak menyuruh nya cepat-cepat keluar dan menghindar dari arena , orang-orang itu mengkhawatirkan keselamatan nayawanya.
Melihat ada orang yang berani memasuki gelagang,, Harimau dari kejauhan Nampak mengeram-ngaram dan mengaum sambil mengangakan mulutnya , memperlihatkan giginya yang runcing –runcing .
Sementara itu Ni Insal Nyawa kini ia telah ada dihadapan Sunan Palembang yang berjarak cukup terdengar untuk bicara karena Sunan berada diatas Podium yang dikelilingi oleh Kawat pengaman. Dan Ni Ingsal berkata pada Sunan .
“ Ampun beribu ampun baginda , perkenankanlah Beta melawan harimau itu … !
“ Apa katamu… ?.kau ingin melawan harimau yang ganas itu… ? 
Apa kau sudah gila… ! ……………. Sedangkan kerbau yang perkasa itu saja habis dikoyak-koyaknya , Mustahil badanmu yang kecil dan sekurus ini dapat melawan nya… kau ini sudah benar-benar gila….”.
kata sunan tak percaya dan sedikit marah…
“ Tapi Beta akan mencobanya, Baginda…… Beta mohon perkenankanlah baginda. Beta merasa malu kerbau yang kami bawa sejauh itu dari desa ternyata mati dalam pertarungan ,… “
Ni Ingsal nyawa terus memohon dan mendesak .
“ Jadi kau berasal dari dusun lintang .. ??? Tanya sunan kemudian..
“ Benar Baginda… “ jawab Ni Insal Nyawa.
“ Apa sudah kau pikirkan akibatnya ?. Kau akan mati dikoyak-koyak nya.
Lanjut sunan , Tapi dalam hatinya dia merasa kagum atas keberanian Ni Ingsal Nyawa. 
Ketika mereka lagi berbicara , dengan mengeram harimau tadi berjalan menuju tempat Ni Ingsal nyawa berada. .. Melihat ini Sunan menyuruh Ni Ingsal Nyawa Naik keatas Panggung melalui sebuah tangga , setelah berada dihadapan Sunan Ni Ingsal kembali mengulangi perkataannya ..
“ Sekali lagi Beta Mohon pernankan dan izinkanlah beta untuk melawan harimau itu baginda,,, …
“ kau betul-betul ingin mencobanya .. ? tapi kau jangan menyesal nanti.. “ 
Sunan menjawab tersinggung .
“ Beta akan melakukannya baginda……….
Dengan mantap Ni Ingsal berkata.
Semua orang menanti hasil pembicaraan itu. Ternyata Sunan mengizinkan … dan pertarungan anatara harimau dan Ni Ingsal Nyawa di Mulai.

Setelah Ni Ingsal Nyawa mendapat perkenan Sunan, dengan gerakan yang lamban setengah berjingkat karena penyakit bubul yang ada di bawah telapak kaki nya, dia terjun ketengah gelagang..
Semua penonton memusatkan perhatiannya kepada harimau dan Ni Ingsal . Keduanya sudah berhadapan . Ni ingsal Nyawa dengan keris ditangan kanannya menatap harimau .
Sedikitpun Ni Ingsal Nyawa tidak berkedip menatap dangan tajam mata harimau yang ganas itu .
Harimau itu meliuk-liukkkan badannya kekanan , mengatur ancang-ancang untuk menerkam dan bet seperti sebuah bayangan saja Harimau itu menerkam dengan kukunya yang tajam terarah kepada Ni Ingsal Nyawa. Dengan sedikit menunduk dan berkelit ke samping kiri Ni Ingsal Nyawa dapat mengelakkan serangan harimau itu.
Semua penonton juga Sunan serta pembesar istana menarik nafas melihat adegan yang mengerikan ini.
Setelah sama-sama memutar badan kembali keduanya berhadap-hadapan . Harimau itu jadi tambah geram karena serangannya dapat dielakkan oleh Ni Insal , Dengan secepat kilat Harimau kembali menerkam ….. dan suara penonton terpekik ngeri ketika badan Ni Insal Nyawa terhuyung-huyung kena sambaran kuku harimau itu.
Tapi Rupanya kuku harumai itu hanya mampu mengoyak baju yang diapakai Ni Ingsal Nyawa dan sedikit berobek kulitnya .
Pada terkaman ketiga Ni Ingsal nyawa tidak lagi mengelak. Tapi terkaman bernafsu harimau itu disambutnya dengan keris terhunus ditangan kanannya . Pada waktu itu terdengar raungan yang keras dan dahsyat dari harimau , ternyata keris Ni Ingsal Nyawa telah bersarang diperut harimau itu , yang kemudian diangkatnya tinggi-tinggi di putar-putarnya untuk dipertontonkan kepada semua penonton yang ada kemudian dijatuhkannya ketanah. Hanya sebentar harimau ganas itu menggeliat-geliat, akhirnya mati tak berkutik lagi.
Ni Ingsal Nyawa sambil menghapus-hapus darah yang melekat di tangannya terus berjalan menghadap sunan yang duduk di panggung kehormatan.
Sorak sorai penonton bergemuruh bagai derap kuda di padang rumput , semuanya memuji akan ketangkasan dan kehebatan Ni Ingsal Nyawa .
Sunan kemudian bicara pada Ni Ingsal yang ada dihadapannya .
“ kau sungguh Hebat Ni Ingsal Nyawa “ kau lebih tangkas dari harimau aku ingin memberimu nama baru, sesuai dengan kegagahanmu yaitu :
USANG RIMAU ATAU ANAK RIMAU.
Usang adalah panggilan orang yang sangat dihormati dan disegani karena kesaktiannnya , ,,, … Nama ini lah yang dipakai Ni Ingsal Nyawa sampai dia wafat .
The End
Palembang, Desember 2008.
Penulis.
Jan Rumein Hamid, SH.
Sumber :
CERITA RAKYAT Sumater Selatan
Departemen Pendidikan dan kebudayaan Pusat penelitian sejarah & Budaya 1978 / 1979.
KESIMPULAN :
Cerita Sang Rimau ini didapat dari cerita orang tua-tua didaerah meranjat, Masyarakat daerah meranjat menganggap cerita ini betul-betul terjadi dan usang Rimau adalah merupakan asal –usul nenek moyang Suku Meranjat . Sampai sekarang Makam Usang Rimau dianggap keramat dan Masih banyak orang yang datang berziarah kesana.
Usang Rimau semula berasal dari daerah Lintang Empat lawang. Kemudian menetap didaerah meranjat yang selanjutnya merupakan cikal bakal nenek moyang suku mernjat.
Kemungkinan sampai sekarang ada hubungan bahasa dan adat istiadat .
Perlu pemerliharaan makam tersebut baik oleh masyarakat setempat maupun pemerintah.




Sameera ChathurangaPosted By Sameera Chathuranga

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat contact me

Thank You

0 komentar:

Posting Komentar